TAHU SALUYU

TAHU SALUYU
Tahu Sumedang Saluyu

Kamis, 02 Desember 2010

Pelanggannya Orang Bermobil

Selasa, 19 Oktober 2010 11:52
Dedi, 42, mengaduk-aduk aci, kedelai yang sudah digiling, yang direbus dalam tong berbahan semen di pabrik tahu Saluyu milik Wahyu Suryana, 40, Selasa (12/10) siang lalu. Ia terus mengaduk tanpa henti hingga keringatnya mengucur. Rebusan aci yang diberi bibit tahu itu untuk memisahkan endapan tahu dan airnya. Butuh waktu sepuluh menit untuk menghasilkan endapan tahu.

Di pojok belakang pabrik tahu semi permanen itu, Iwan, 23, mencuci kedelai yang baru saja direbus. Ia memisahkan kedelai dari kulit arinya dan membuang kedelai yang busuk. Setelah bersih, ia memasukkan kedelai ke dalam penggilingan. Kedelai yang sudah digiling disiapkan lagi untuk direbus.
Sementara, Kang Ajat, mendidihkan air di tong berbahan semen di pojok depan. Sesekali ia memasukkan serutan kayu ke dalam perapian hingga api terus menyala. Bahan bakar serutan kayu yang didapat dari tempat pembuatan kusen itu digunakan setelah minyak tanah tidak bersubsidi lagi.

Sekitar sepuluh menit berselang Dedi selesai membibitkan tahu. Iwan dan Ajat kemudian mengambil endapan tahu dari tong untuk disaring. Hasil saringan dimasukkan ke cetakan dan dibiarkan dingin. Sementara ampas tahu ditampung. Ampas tahu dijual untuk pakan ternak. Bahkan ibu-ibu sekitar pabrik mengambilnya untuk luluran.

Dedi kemudian mengambil satu kotak tahu yang siap goreng dan membawanya ke warung Tahu Saluyu di Tiban Centre. Jaraknya sekitar 500 meter. Di warung, Dedi langsung menggoreng tahu yang sudah dipotong-potong dalam tungku. Tahu yang sudah digoreng akhirnya siap dijual. Dedi, Iwan, dan Ajat, mulai bekerja sejak pukul 11.00 WIB. Pembuatan tahu Sumedang bermerek Saluyu itu berakhir pukul 15.00 WIB. Itu adalah produksi ke dua dalam satu hari itu setelah produksi pertama pukul 05.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB. Satu kali produksi menghasilkan enam kotak tahu.’’Satu kotak itu menghasilkan 126 potong tahu,’’ ungkap Dedi.

Jadi dalam satu hari, pabrik Tahu Saluyu di Tiban II itu memproduksi  1.512 potong tahu. Tahu sebanyak itu dihasilkan dari 40-50 kilogram kedelai. Namun produksi itu bisa bertambah hingga tiga ribu potong per hari jika permintaan meningkat. Tahu Saluyu yang sudah diproduksi itu dilempar ke pasar dan dijual sendiri di dua warung Tahu Saluyu milik Wahyu Suryana. Tahu goreng itu dijual per paket seharga Rp9 ribu dan Rp25 ribu. ‘’Tahu putih langsung dibawa ke warung Tahu Saluyu. Sementara tahu kuning diberi kunyit dulu lalu dikemas dan dijual ke pasar,’’ ujar Wahyu Suryana.

Tahu Saluyu kuning dijual di sejumlah pasar di Batam seperti Pasar Cipta Puri Tiban, Pasar Tiban Centre, Pasar Penuin, Pasar Nagoya, Pasar Mitra Raya Batam Centre, dan Pasar Botania. Dalam satu hari, hasil penjualan tahu goreng maupun tahu kuning antara Rp1,5 juta-Rp2 juta. Artinya dalam satu bulan hasil penjualan paling tidak Rp45 juta. Dari situlah Wahyu bisa mengangkat ekonomi karyawannya. ‘’Ya relatif karena kadang habis (terjual), kadang enggak,’’ kata pria yang juga berbisnis pengiriman kargo ini.
Wahyu memulai usaha tahu ini sejak tahun 2004. Pria yang merantau ke Batam tahun 1990 ini sebelumnya bekerja di perusahaan pelayaran dan sempat bekerja di travel. Puluhan tahun menjadi karyawan, ia bosan dan ingin mencari sesuatu yang menurutnya lebih menantang. ‘’Saya coba usaha sendiri. Tapi saya pikir usaha apa. Saya tidak punya keterampilan, pendidikan pun cuma sampai SMA,’’ ujarnya.


Ketika pulang kampung, ia melihat usaha Tahu Sumedang. Saat itu di Batam belum ada yang produksi Tahu Sumedang. Ia pun terpikir untuk usaha Tahu Sumedang di Batam. ‘’Saya hanya tahunya Tahu Sumedang. Tapi bikinnya saya juga kurang tahu, jadi saya mengajak kawan, Dedi yang tahu cara bikin tahu,’’ jelasnya. Bermodal Rp80 juta, warga Tiban BTN ini membeli kapling di Tiban II dan membuat pabrik tahu semi permanen. Dengan karyawan 12 orang, Tahu Sumedang mulai diproduksi. Tahu itu kemudian diberi merek Saluyu. Merek itu didapat Wahyu saat mendaftarkan usahanya. ‘’Katanya kalau Tahu Sumedang aja kan sudah umum, jadi disarankan beri nama yang khusus. Akhirnya saya kasih nama Saluyu yang artinya selaras. Harmonis. Harapannya bisa harmonis dengan pembeli,’’ ungkapnya.
Tahu Sumedang merek Saluyu itu tidak langsung dijual ke pasar, tapi diolah sendiri menjadi tahu goreng. Wahyu membuka dua warung Tahu Saluyu dan tujuh gerobak jualan yang menyebar di beberapa tempat di Batam. Meski punya 12 karyawan saat itu, Wahyu turun tangan langsung berjualan.  ‘’Saya turut jualan sendiri di kaki lima,’’ katanya lagi-lagi merendah saat menemani Batam Pos melihat produksi tahu di pabriknya.

Selama tiga tahun Wahyu turut berjualan. Setelah itu ia serahkan ke karyawannya karena gerobak Tahu Saluyu sudah berkurang. Karyawan juga ia kurangi karena penjualan tahu Saluyu tidak berkembang pesat. Penyebabnya, tahu goreng belum terlalu populer di Batam.  ‘’Akhirnya tinggal dua tempat jualan saja. Di Tiban dan di Legenda Malaka,’’ sebutnya.
Justru setelah gerobak jualan menghilang dan hanya dua warung yang tersisa, orang-orang ramai mencari Tahu Saluyu. Orang-orang bermobil berdatangan membeli tahu Saluyu di Tiban dan Legenda Malaka. Di warung itu, Wahyu mempekerjakan masing-masing dua orang karyawan. Setelah melihat peminat Tahu Saluyu ramai, Wahyu menjual tahu kuning sejak September lalu. Tahu kuning itulah yang dijual ke pasar-pasar di Batam. Penjualannya sistem titip pada toko-toko di pasar. Penjualan sistem titip ini juga ada tantangannya karena tidak semua pedagang mau menerima.

Tantangan yang dihadapi Wahyu dalam mengembangkan usahanya ini tidak sedikit. Selain peminat Tahu Saluyu goreng yang belum banyak, harga bahan baku tahu yakni kedelai sering fluktuatif. Kedelai impor itu mengikuti nilai tukar dollar Amerika. Saat harga kedelai melonjak, Wahyu terpaksa mengurangi produksi.  ‘’Tidak apa-apa kurang, yang penting masih bisa produksi dan memenuhi permintaan pelanggan,’’ katanya.***
Foto : Wahyu Suryana, Pengusaha Tahu Saluyu

Kamis, 25 November 2010

TAHU SUMEDANG SALUYU BATAM

PEMILIK USAHA : WAHYU SURYANA
ALAMAT : PERUM. TIBAN INDAH PERMAI BLOK K NO. 12A, BATAM

TEMPAT OUTLET PENJUALAN DI TIBAN PRINCES

DAN TELAH MERAMBAH PENJUALANNYA KE MALL YANG ADA DI BATAM